Bisa Déwék Project
Selayang Pandang
Semua dimulai ketika pada bulan Maret 2006, Yunita T. Winarto mengajak saya untuk bergabung dalam sebuah proyek penelitian tentang petani-pemulia tanaman (farmer-breeder) di Indramayu. Secara khusus beliau meminta saya untuk membantu melakukan perekaman audio-visual (video) mengenai kegiatan pemuliaan tanaman padi dan sayuran yang dilakukan oleh sekelompok petani di Indramayu yang tergabung dalam IPPHTI (Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia) Kabupaten Indramayu. Sebagai kajian antropologi, fenomena ini sangat penting untuk didokumentasikan mengingat bahwa pengetahuan pemuliaan tanaman (plant breeding) selama ini dikuasai oleh kalangan ilmuwan (breeder) dengan kualifikasi akademik tertentu dan bukan pengetahuan yang bersifat umum. Hal ini itu dapat dipahami karena keahlian melakukan pemuliaan tanaman didasarkan pada prinsip-prinsip rekayasa genetika yang tidak kasat mata. Sebaliknya, pengetahuan petani itu terutama diperkaya oleh hal-hal yang dapat diamati melalui panca inderanya. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengamati dan mendokumentasikan proses interpretasi dan internalisasi pengatahuan ilmiah (scientific knowledge) ke dalam pengatahuan petani dan bagaimana pengetahuan ini kemudian berkembang sesuai dengan kondisi ekologis dan sosial budaya yang spesifik.
Ada dua alasan digunakannya media audio-visual dalam proyek ini. Pertama, adanya kebutuhan dari kelompok petani pemulia tanaman di Indramayu untuk mendokumentasikan dan memublikasikan kegiatan pemuliaan secara luas secara luas. Kebutuhan untuk memublikasikan kegiatan muncul karena adanya tuntutan untuk mendapatkan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak terhadap kegiatan pengembangan pengetahuan pertanian yang oleh petani IPPHTI disebut dengan istilah ‘Sains Petani’ (termasuk di dalamnya adalah kegiatan pemuliaan tanaman padi dan sayuran). Dari pengalaman petani, kegiatan pegembangan Sains Petani kurang mendapatkan pengakuan dan dukungan dari berbagai pihak termasuk pemerintah daerah Kabupaten Indramyu. Kegiatan pelatihan pemuliaan tanaman yang difasilitasi oleh sebuah LSM dalam bentuk Sekolah Lapang bahkan pernah dianggap sebagai kegiatan ilegal dan pernah diancam akan ditutup oleh Dinas Pertanian setempat.
Bagi sebagian petani pemulia tanaman, kesadaran penggunaan media sudah muncul sebelum terjalinnya kerjasama dengan peneliti Antropologi UI. Menyerap berbagai pengalaman ketika bekerja sama dengan LSM, beberapa petani melihat adanya kebutuhan untuk melakukan pendokumentasian kegiatan dalam bentuk visual dan memublikasikannya. Oleh karena itu, jaringan petani pemulia yang terlibat dalam Sekolah Lapang yang difasilitasi oleh yayasan FIELD-Indonesia pernah menerbitkan media cetak berbentuk newsletter berjudul ‘Bunga Padi’. Beberapa petani pemandu bahkan melakukan pendokumentasian kegiatan dalam bentuk foto atau video dengan alat yang mereka miliki (kamera digital dan mini dv camcorder).
Di sisi lain, bagi antropolog penggunaan media visual (berupa video dan foto) dipilih karena adanya kebutuhan pengembangan kajian antropologi visual pada Departemen Antropologi FISIP-UI. Kajian antropologi visual, walaupun sudah lama diminati oleh mahasiswa antropologi UI, belum menjadi bagian dari kurikulum. Terkait dengan hal tersebut, secara khusus saya melihat bahwa penggunaan media visual dapat menjadi alternatif cara bertutur bagi antropolog untuk merepresentasikan sebuah fenomena budaya di samping cara bertutur ‘konvensional’ berupa tulisan. Saya melihat bahwa pemaksimalan media audio visual yang dipadukan dengan metode penelitian kualitatif dan pengamatan terlibat dapat menghasilkan sebuah karya etnografi yang berkualitas sekaligus menarik untuk disimak dan dapat menjangkau khalayak luas.
Berangkat dari bertemunya dua kepentingan tersebut, dirancanglah sebuah proyek kolaborasi berupa produksi film dokumenter yang diberi judul oleh petani “Bisa Dèwèk”. Sebagai konsekuensi dari dua kepentingan dalam proyek ini, setiap tahap dalam produksi film Bisa Dèwèk dirumuskan dan dilakukan secara bersama-sama oleh kedua pihak.
Dalam tahap perencanaan (yang mencakup penentuan alur cerita dan jadwal pengambilan gambar), petani berperan besar. Alur cerita disusun berdasarkan pengalaman petani terutama dalam kegiatan memuliakan tanaman. Dalam tahap ini, antropolog berperan sebagai pemandu diskusi yang berfungsi untuk menggali pengalaman petani untuk dirumuskan bersama dalam bentuk alur cerita. Tokoh-tokoh yang akan muncul dalam film juga ditentukan oleh petani. Mereka adalah orang-orang yang dianggap mampu dan pantas untuk menuturkan cerita atau dapat mempraktikkan aktivitas tertentu dalam proses pemuliaan tanaman. Selain itu, jadwal dan lokasi pengambilan gambar disusun berdasarkan berdasarkan kegiatan cocok tanam yang satu musim yang mengintegrasikan kegiatan pemuliaan tanaman penyeleksian tanaman induk, penyilangan, hingga tahap seleksi tanaman. Oleh karena itu, pengambilan gambar dilakukan selama dua musim tanam (kurang lebih 9 bulan): dari musim tanam kering (gadu) 2006 hingga musim tanam basah (rendeng 2007). Untuk mengakomodasi variasi aktivitas dan kondisi ekologi Indramayu, lokasi pengambilan gambar dilakukan di sembilan Kecamatan tempat bermukimnya kelompok-kelompok petani pemulia tanaman.
Hal yang menarik dalam proses ini adalah kesepakatan sejak awal bahwa petani dan antropolog akan berbagi peran. Petani menyerahkan sebagian besar pekerjaan merekam gambar kepada tim antropologi UI dengan pertimbangan bahwa sangat sulit bagi petani untuk berkonsentrasi melakukan kegiatan perekaman dalam waktu yang cukup panjang, sekaligus harus tetap beraktivitas di sawah dan memandu kelompok-kelompok jaringan pemulia tanaman. Namun, evaluasi dilakukan hampir di setiap malam setelah pengambilan gambar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendiskusikan apakah gambar-gambar yang direkam dianggap sudah mewakili ‘kenyataan’ yang dibayangkan sebelumnya.
Proses diskusi terus berlanjut hingga tahap pasca produksi saat sejumlah gambar hasil rekaman mulai dipilih untuk disusun menjadi sebuah tayangan audio-visual berdurasi 30 hingga 40 menit. Dalam tahap ini perdebatan masih terjadi atas kurang tepatnya tayangan dan informasi yang disampaikan. Satu hal yang penting adalah bahwa proses evaluasi dan diksusi memberi kesempatan bagi kedua pihak (petani maupun peneliti) untuk melakukan refleksi. Bagi petani, melihat diri dan lingkungannya melalui layar kaca seperti melihat melalui cermin, pengalaman diri dan hal-hal yang terjadi di lingkungannya yang selama ini dianggap biasa.
Kesempatan menyimak lingkungan melalui layar kaca juga menjadi bahan refleksi untuk melihat persoalan-persoalan yang ada di lingkungannya. Ketika melakukan review atas tayangan rekaman wawancara dengan seorang petani tua yang baru selesai menyemprot sawahnya dengan pestisida, beberapa petani yang menyaksikan adegan ini merasa prihatin dengan apa yang dilakukan si petani tua. Si petani menyemprot sawah dengan dosis pestisida berlebihan dan tanpa alasan yang jelas.
Bagi peneliti, kegiatan evaluasi juga menjadi kesempatan untuk menggali pengetahuan tentang persoalan-persoalan yang terkait dengan kehidupan petani. Kemampuan alat pemutar kaset video untuk membekukan, memutar cepat, atau memutar ulang adegan yang sudah direkam memberi kesempatan kepada peneliti untuk bertanya dan mengkonfirmasi hal-hal yang terekam dalam media video. Tidak jarang petani juga memberikan masukan tentang cara seharusnya gambar diambil: lebih dekat, atau lebih lebar; atau kegiatan apa yang seharusnya menjadi perhatian utama. Dalam hal ini, proses review menjadi pelengkap atas hal-hal yang belum terbayangkan selama proses persiapan. Oleh karena itu, seringkali terjadi perubahan rencana atau pergantian tokoh dan lokasi suting setelah melakukan review.
Selain terkait dengan diskusi mengenai gambar yang terekam, proses review juga sekaligus menjadi sarana alih pengetahuan dari peneliti kepada petani terutama terkait dengan hal-hal teknis dalam penggunaan alat perekam (handycam). Tidak jarang petani bertanya mengenai hal-hal seputar teknis pencahayaan dan komposisi gambar dalam sebuah adegan.
Satu hal yang menjadi catatan adalah bahwa proses diskusi ini menguras energi yang cukup besar dan waktu yang relatif panjang. Dalam proses penyuntingan, proses ini seringkali ‘menghambat’ perkembangan kerja. Walau sudah didiskusikan pada saat melakukan review, masih saja ada beberapa kesalahan baru atau kekurangan yang ditemukan setelah gambar diproses di alat editing. Pada beberapa kasus malah terpaksa melakukan pengulangan pengambilan gambar atau penambahan wawancara. Dalam hal ini, memang perlu ada fleksibilitas dalam menentukan jadwal dan kegiatan.
Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, tahapan editing dibagi menjadi dua. Tahap pertama berupa penyusunan alur besar cerita yang dilakukan di Indramayu. Pertimbangannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada petani untuk berkontribusi dalam proses editing. Hal ini juga dilakukan dengan pertimbangan untuk memberikan kesempatan kepada petani untuk mengenal perlengkapan editing. Tahap kedua dari editing dilakukan di Jakarta dengan pertimbangan untuk memberikan kesempatan kepada antropolog untuk menarik diri dari setting penelitian.
Kesempatan untuk ‘keluar’ dari setting menjadi penting agar dapat secara lebih jernih melakukan pemilahan dan menyusun cerita dengan tetap berpegangan pada hasil kesepakatan dengan petani. Hal itu menjadi penting karena tayangan audio-visual dibatasi oleh durasi tayang tertentu yang terkait dengan berbagai hal termasuk kenyamanan orang yang akan menyaksikan tayangan ini. Sejak awal, kedua belah pihak menyetujui bahwa tayangan yang akan dihasilkan tidak lebih dari 40 menit. Tahap ini juga menjadi momen bagi peneliti untuk dapat melakukan interpretasi atas realitas yang terekam dalam gambar. Sejumlah diskusi dan masukan dari petani menjadi bahan pertimbangan dalam proses editing. Pembagian tahap dalam editing yang dilakukan di dua tempat juga merupakan perwujudan dari pembagian kerja sebagai konsekuensi atas proses kolaborasi yang disepakati di awal proyek ini.
Deseminasi Film Bisa Dèwèk: Reaksi dan interpretasi berbagai pihak
Sebagai sebuah media publikasi, pesan utama yang ingin disampaikan dalam film ini adalah ide kemandirian petani melalui pengembangan Sains Petani. Ada tiga kegiatan Sains Petani yang diangkat dalam film ini, yaitu: kegiatan pemuliaan tanaman (padi dan sayuran), kegiatan budi daya tanaman padi dengan sistem tanam akar sehat atau SRI (System of Rice Intensification) , dan cocok tanam secara organik. Kegiatan pengendalian hama terpadu ditampilkan sebagai latar belakang sejarah mengenai tumbuh kembangnya benih-benih Sains Petani seiring dengan dilaksanakannya Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu di Kabupaten Indramayu sejak tahun 1996.
Sebagai bagian dari kegiatan sosialisasi ide kemandirian dan Sains Petani, pendeseminasian film Bisa Dèwèk dilakukan di 12 kelompok tani yang menjadi bagian dari jaringan IPPHTI Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan layar tancep dan diskusi atau dengan istilah petani disebut dengan kegiatan ‘ngamèn’.
Ngamèn dilakukan dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan dengan berkeliling ke-12 kecamatan di Indramayu dari Patrol di wilayah Barat hingga Juntinyuat di wilayah Timur. Kegiatan ini dirancang oleh IPPHTI Indramayu sebagai usaha untuk memperoleh dukungan dari pemerintah kecamatan tempat kelompok pemulia tanaman berada. Dengan dukungan tersebut, diharapkan wacana Bisa Dèwèk dapat bergulir ke tingkat yang lebih luas yaitu tingkat Kabupaten Indramayu. Strategi ini dipilih oleh IPPHTI dengan pertimbangan bahwa berbagai usaha yang pernah dilakukan untuk berdialog langsung dengan Bupati berakhir dengan kegagalan. Oleh karena itu, dengan adanya dukungan dari ‘bawah’ diharapkan upaya untuk berdialog dengan bupati menjadi terbuka. Dalam istilah Indramayu, strategi ini dinamakan oleh petani IPPHTI sebagai strategi ‘rog-rog wité, rontog wohé’ (digoyang pohonnya, [supaya] jatuh buahnya).
Pemutaran film “Bisa Dewek” di 11 kecamatan bertujuan agar kegiatan dan keahlian yang dilakukan dan dimiliki beberapa kelompok petani dapat menyebar dan diketahui oleh petani-petani lain. Selanjutnya diharapkan hal tersebut dapat menggugah para petani sehingga mau menjalankan pertanian yang ramah lingkungan dan tidak terlalu bergantung kepada pihak lain (dalam hal ini perusahaan penghasil benih, pestisida, dan pupuk). Selain melakukan pemutaran layar tancep setiap kelompok juga menginformasikan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan. Pemutaran film juga diikuti dengan diskusi antara petani dan aparat pemerintahan yang hadir tentang persoalan-persoalan yang mereka hadapi. Seperti di Bongas contohnya, para petani mengeluhkan hama penggerek batang yang kembali menyerang sawah mereka. Foto diambil pada tanggal 30 Mei 2007. (Foto dan teks oleh: Hanantiwi)
Perjalanan untuk menunggu ‘jatuhnya buah’ tidaklah mulus. Ada berbagai macam reaksi atas kegiatan pemutaran film Bisa Dèwèk. Walau secara umum kegiatan ‘ngamèn’ dianggap sukses dan 10 dari 12 Camat beserta staf pertanian tingkat kecamatan (KCD, BPP dan PHP) akhirnya bersedia menandatangani pernyataan dukungan atas kegiatan dan pengembangan Sains Petani, prosesnya diwarnai oleh berbagai reaksi dan tanggapan terhadap film Bisa Dèwèk. Di beberapa Kecamatan, Camat dan aparat desa (kuwu) menolak untuk hadir dalam acara pemutaran film dan disukusi. Di kecamatan lain, situasinya berbeda. Aparat desa dan petugas pertanian justru sangat aktif dalam membantu persiapan dan pelaksanaan kegiatan ngamèn.
Berbagai reaksi yang muncul atas film Bisa Déwék menunjukkan adanya beragam interpretasi atas wacana kemandirian dan Sains Petani yang diartikulasikan dalam film ini. Bagi beberapa pihak, Sains Petani dianggap sebagai ancaman. Bagi pihak lain, film ini justru memberikan inspirasi untuk melakukan berbagai pengembangan pengetahuan pertanian.

Aktivitas yang sangat mulia. Bagaimana caranya agar saya dapat menikmati film itu?
Setiap Sabtu malam, di Rumah Pena Cirebon ada pemutaran film-film. Mungkin menari kita bedah film tersebut dan bedah juga program bisa dewek ini.
interesting explanation. may i refer this article for my thesis writing project? hehe. and still i need other references to complete my thesis. i’ll soon contact you.
Good experience…….
wiwik
Field Indonesia
Sungguh kegiatan yang sangat luar biasa, mau berbagi dan memberi ilmu pada sesama, acungan jempol bagi anda n team. Sukses selalu.
Bagaimana caranya untuk mendapatkan film tersebut? terimakasih.
salam kenal,
saya adalah petani pemula di daerah lumajang, meski basis pendidikan saya dari teknik aaya tekadkan untuk menekuni bidang pertanian. bisakah saya mendapatkan film tsb? adakah kontak (email, website, telp) untuk belajar lbh jauh ttg ptanian? trim’s.
bang,, pengen liat filmnya… berguna juga buat bahan skripsi ima…
saya malu pada diri sendiri karena belum bisa berguna bagi orang lain.
berbeda dengan saudara dan petani-petani yang saudara dokumentasikan tersebut…
terimakash banyak…
tentang filmnya, kalau boleh di download (bu rino, boleh di download nggak neh “bisa dewek” yang ada di youtube nya??? tolong e-mail saya segera).
kalau boleh di download, saya bisa kasih tahu bagaimana donwnload gratis dari youtube.
ada yang berminat??? silahkan kirim e-mail ke icindonesia@gmail.com (tapi nunggu klarifikasi dari bu rino dulu ya,,,)